Kategori

Dilema di Tengah Wabah Corona

image

Di tengah masyarakat Bali disarankan untuk mengurangi aktifitas di luar rumah yang sangat riskan menimbulkan gesekan yang berpeluang terinfeksi corona virus, puluhan ribu wisatawan justru diizinkan masuk Bali melalui pintu masuk liburan di Bali. Dilema di tengah wabah corona, demikian pernyataan Kawan Global yang disampaikan dalam acara dialog interaktif Warung Global kali ini.

 

Dilematis memang, demikian menurut Ayu di Tabanan. Satu sisi untuk menggairahkan ekonomi Bali akibat pariwisata lesu, wisatawan boleh masuk di sisi lain, krama bali diharuskan diam di rumah untuk mengindari wabah virus ini. Ia hanya bisa berharap agar cek kesehatan tetap dijalankan baik bagi tamu maupun masyarakat bali.

Sementara Fera di Tabanan hanya bisa pasrah, apa boleh buat? Masyarakat bali hanya ikut aturan pemeirntah saja , namun kalau berdiam diri di rumah, mereka yang bekerja tidak dapat uang, tidak bisa makan? Bagaimana solusinya? Ia juga menyarankan agar alat cek kesehatan canggih dipasang di pintu masuk bali. Jangan waspada terhadap corona saja, cek juga keamanan di pintu masuk bali.

Selain menangkal dengan ilmu medis, non medis juga tak kalah penting, demikian menurut Budiada di Tabanan. Untuk meminimalisir korban  dari wabah ini, mari kita pasang alat cek kesehatan yang canggih.

Sebagai warga bali, Wayan Petran di Kintamani sangat cemas. Ketika masyarakat disarankan untuk diam di rumah, kurangi aktifitas di luar, sementara puluhan ribu orang masuk bali, sangat dilema. Ia berharap selain di cek kesehatan secara rutin, tamu yang ada di bali sebaiknya dikarantina. Sama halnya dengan Febri. Waktu masuk bali, belum terlihat mengidap corona, tetap cek kesehatan mereka dan masyarakat bali secara rutin. Memang pariwisata lesu, tapi harusnya kesehatan masyarakat bali yang dinomorsatukan, jangan justru serakah, dengan memberikan tamu masuk bali.

Menurut Nyoman Mastra di Gianyar. Kita semua tentu mengharapkan keselamatan/kerahayuan, tidak masalah tamu ke bali, tapi kesehatan tetap dicek.

Saat awal virus ini masuk bali, sampai sekarang Arya di Denpasar masih diragukan. Jangan ditutupi. Kemudian daerah mana saja yang terpapar corona sebaiknya dijelaskan jika benar-benar komit ingin meminimalisir korban.  Ia menyarankan agar meniru Negara Korea, mereka penuh dengan solidaritas dan disiplin sehingga korban tidak terus bertambah.

Senada dengan Arya, Alit di Mengwi juga demikian  harus disiplin dan butuh gerakan yang solid dalam menanggulangi virus corona semakin meluas, data yang jelas mengenai korban dan wilayah terpapar, alat canggih untuk cek kesehatan serta pro aktif dalam sosialisasi virus ini.

Prinus di Denpasar menyampaikan saran agar langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan di jalur atau pintu masuk Bali. Termasuk pemeriksaan riwayat perjalanan/transit, menginap dan riwayat kesehatan yang bersangkutan. Kalau sakit-sakitan, tolak saja termasuk wisatawan domestic.

 

Seperti kawan lainnya Winaja di Ubung juga merasa ngeri dengan wabah virus corona ini. Di pintu masuk Bali mestinya dilengkapi alat cek kesehatan canggih, masyarakat diberikan sosialisasi dan selalu hidup bersih agar semua sehat.

Meranggi Darmawijaya lewat facebook berharap penitng upaya pemerintah ditambah dukungan masyarakat sehingga kita semua bebas dari corona.

Jika situasi begini, waktunya untuk hening, damai, memberikan vibrasi kedamaian pada unsur alam, air , api , tanah dan lainnya. Demikian yang disarankan Angga di Tabanan.

(sik)

Thu, 19 Mar 2020 @16:31


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 globalfmbali · All Rights Reserved | powered by sitekno