Harga Gas Mau Naik 40%, Subsidi Listrik Bakal Bengkak Rp 8 Triliun

image

Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) berencana menaikkan harga gas bumi di hulu sebesar 40%. Apabila itu dilakukan, maka akan berdampak pada membengkaknya subsidi listrik Rp 8 triliun.

Kepala Divisi Gas dan Bahan Bakar Minyak (BBM) PLN Suryadi Mardjoek mengatakan, kenaikan harga gas sangat berpengaruh pada sub sektor ketenagalistrikan.

"Rencana kenaikan harga gas well head (kepala sumur gas) dari US$ 5,8 per mmbtu menjadi US$ 8 mmbtu berpotensi menaikkan kebutuhan subsidi listrik sebesar Rp 8 triliun per tahun," ucap Suryadi dalam surat elektroniknya, Selasa (16/7/2013).

Suryadi merinci, estimasi harga gas rata-rata tanpa LNG dari FSRU Nusantara Regas (NR) saat ini adalah US$ 6,54 per mmbtu. Dengan harga sebesar itu, maka belanja gas PLN sebesar Rp 21,16 triliun/tahun.

"Jika harga gas well head naik menjadi US$ 8 per mmbtu, maka harga gas rata-rata tanpa LNG akan menjadi US$ 9,08 per mmbtu sehingga biaya pembelian gas pipa naik menjadi Rp 29,39 triliun atau membutuhkan tambahan biaya Rp 8,23 triliun," ungkapnya.

Ditambahkan Suryadi, estimasi harga gas rata-rata termasuk LNG dari FSRU NR saat ini adalah US$ 8,53 per mmbtu. Dengan harga gas sebesar itu, maka biaya pembelian gas PLN sebesar Rp 32,42 triliun per tahun.

"Jika harga gas well head menjadi US$ 8 per mmbtu, maka harga gas rata-rata termasuk LNG menjadi US$ 10,58 per mmbtu maka biaya pembelian gas pipa naik menjadi Rp 40,28 triliun atau membutuhkan tambahan biaya Rp 7,86 triliun," rincinya.

"Biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang semula Rp 1.210, 35 per kWh akan menjadi Rp 1.455,1 per kWh," kata Suryadi.



Sumber : Detik Finance/(rrd/dnl)

Tue, 16 Jul 2013 @14:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+4+1

Copyright © 2017 globalfmbali · All Rights Reserved
powered by sitekno