Subsidi Berakhir, Penumpang Digaet Bus Sarbagita Sopir Terminal Tegal Mengeluh

image

Denpasar -
Para sopir angkutan jurusan Tegal (Denpasar) - Jimbaran (Badung) kini mulai merasakan dampak pengoperasian bus Trans Sarbagita. Bila pada awal beroperasinya bus Trans Sarbagita mereka mendapat subsidi Rp 250.000 per hari, kini hal itu tidak diperpanjang lagi. Sementara jumlah penumpang yang mereka angkut dengan armada jenis Isuzu, kini semakin berkurang karena telah digaet bus Trans Sarbagita. Mereka pun mengeluhkan nasibnya yang semakin tersingkir.

Salah seorang sopir angkutan jurusan Tegal-Jimbaran, I Made Patra yang ditemui di Terminal Tegal, Senin (15/7) kemarin, mengatakan jumlah penumpang semakin menurun. Selain akibat semakin banyaknya warga menggunakan kendaraan pribadi, pengoperasian bus Trans Sarbagita yang secara langsung jalurnya nyaris sama, juga memberikan dampak cukup besar bagi kelangsungan trayek yang dilalui. ''Sejak bus Trans Sarbagita beroperasi, penumpang semakin berkurang karena jalurnya hapir sama terutama dari Simpang Siur (Simpang Dewa Ruci) ke selatan,'' ujar Patra didampingi rekan-rekannya sesama sopir.

Di awal pengoperasian bus Trans Sarbagita, pihaknya bersama sopir lainnya mendapat subsidi Rp 250.000 per hari. Mereka diwajibkan berkeliling pada jalur yang telah ditentukan untuk mendukung kelancaran bus Trans Sarbagita. Namun setelah setahun berlalu, kontrak tersebut tidak diperpanjang. Sejak Januari 2013 ini, kontrak itu tidak lagi diperpanjang. Otomatis, para sopir ini semakin kehilangan jumlah setoran. ''Subsidinya sudah dihentikan, penumpang juga berkurang,'' keluh Patra bersama rekan-rekannya.

Mereka berharap Trans Sarbagita tidak mematikan kehidupan para sopir angkutan jurusan Tegal-Jimbaran. Artinya, pola yang diterapkan sebelumnya bisa memberikan harapan terhadap para sopir yang kini semakin terdesak dengan moda transportasi yang lain. ''Kami berharap Trans Sarbagita kembali memberikan subsidi untuk operasional angkutan ini,'' ujar para sopir di Terminal Tegal, kemarin.

Patra mengatakan, beberapa tahun lalu jumlah armada yang mangkal di Terminal Tegal cukup banyak. Bahkan, pada 1996 jumlah armadanya mencapai 200 unit. Kini setelah beberapa tahun, jumlah armada yang masih beroperasi aktif sekitar 120 unit saja. Sudah banyak armada yang tidak beroperasi lagi karena sepinya penumpang. Padahal dari segi kelayakan armada, masih memadai. ''Karena penumpang sepi, banyak rekan-rekan kami yang beralih ke angkutan lain seperti angkutan barang,'' katanya. (kmb12)

Sumber : Bali Post

Tue, 16 Jul 2013 @14:33


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+5+7

Copyright © 2017 globalfmbali · All Rights Reserved
powered by sitekno